Cara Mengatasi Quarter Life Crisis untuk Millenial yang Sering Bingung dengan Masa Depan

Cara Mengatasi Quarter Life Crisis untuk Millenial yang Sering Bingung dengan Masa Depan

Cara Mengatasi Quarter Life Crisis untuk Millenial yang Sering Bingung dengan Masa Depan

Semakin hari, istilah QLC atau Quarter Life Crisis semakin dikenal. Ini wajar mengingat kesadaran masyarakat tentang pentingnya psikologis manusia terus membaik. Krisis seperempat abad merupakan hal wajar. Ini biasanya dialami oleh orang pada rentang usia 18 hingga 30 tahun.

Terdapat banyak hal yang akan terasa dan mengganggu kestabilan mental. Orang tersebut akan merasa kecewa, bingung, khawatir, dan masih banyak lagi.

Dirangkum Stupa.id dari berbagai sumber, sebenarnya terdapat beberapa hal yang menjadi tanda apakah seseorang mengalami Quarter Life Crisis atau tidak. Tanda ini tentu bisa dijadikan indikator untuk diri sendiri.

Quarter Life Crisis Memiliki Tanda

Tanda paling menonjol adalah kebingungan akan masa depan. Kebingungan ini bisa terjadi karena beberapa hal. Namun umumnya, individu akan merasa terjebak oleh hal yang sebenarnya tidak ia sukai. Dengan situasi terjepit ini, terdapat pilihan untuk terus terjebak atau keluar dari posisi itu.

Terdapat banyak pertimbangan dan ada banyak hal yang harus dikorbankan ketika ingin lepas dari posisi tersebut. Ini jelas akan menurunkan motivasi dalam beraktivitas. Pada posisi ini, individu akan sulit untuk berkembang.

Ada juga sifat membandingkan yang sering dilakukan terhadap teman sebaya. Biasanya teman sebaya yang dijadikan perbandingan adalah mereka yang terlihat sukses lebih dahulu.

Mengatasi Quarter Life Crisis Bisa Dimulai dengan Beberapa Hal Ini Ketika merasa diri sudah sesuai dengan tanda tersebut, terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan. beberapa hal ini terbukti efektif dalam mengatasi QLC.

1. Jangan Terus Membandingkan Diri

Sifat membandingkan adalah hal yang membuat QLC terus berlanjut. Berhentilah melakukan kebiasaan buruk ini. Setiap orang memiliki kemampuannya masing-masing dan setiap orang memiliki jalan suksesnya masing-masing.

Melakukan perbandingan tidak masalah jika tujuannya untuk memotivasi. Namun jika kebiasaan ini malah membuat down, meneruskannya bukan keputusan tepat. Dalam posisi down, coba perhatikan orang di luar sana yang posisinya jauh di bawah kamu. Untuk bisa menenangkan diri, beberapa kali melihat ke bawah perlu dilakukan.

2. Coba Melangkah Pada fase QLC

individu pasti sudah memahami inti permasalahan yang dialami. Namun besarnya ketakutan dalam diri membuat permasalahan tersebut tidak kunjung diselesaikan. Cobalah melangkah dan selesaikan masalah satu per satu. Dalam prinsip penyelesaian masalah, cobalah untuk menyelesaikannya dari yang tersulit.

Namun jika cara itu dirasa terlalu berat, bisa juga menyelesaikannya dari yang termudah. Melangkah bukan hanya dilakukan untuk menyelesaikan masalah. Pastikan juga untuk melangkah dalam mengejar tujuan. Catatlah progres yang sudah dicapai agar motivasi diri bisa membesar. 

3. Cari Lingkungan yang Kondusif

Sebesar apapun upaya yang dilakukan akan menjadi percuma apabila lingkungan yang dimiliki tidak kondusif. Lingkungan semacam itu malah akan menghilangkan semangat. Beberapa orang bahkan mengaku mendapat hujatan ketika mencoba untuk melangkah. Hal berbeda akan terasa ketika individu sudah berada pada lingkungan yang kondusif. Lingkungan yang kondusif akan terus mendorong dan memberi motivasi.

Namun selalu ingat agar memiliki kepribadian yang saling mendorong. Kurang tepat jika hanya berharap untuk terus dibantu. Pada beberapa kondisi, kamu juga harus siap untuk muncul ketika dibutuhkan.

4. Cintai Diri Sendiri

Ini adalah poin terakhir yang paling vital. Ketika mengalami QLC, seseorang biasanya menganggap bahwa diri sendiri adalah sosok yang tidak berguna.

Padahal sebenarnya, terdapat berbagai hal baik yang dimiliki dan layak ditonjolkan. Sadarilah kelebihan tersebut dan jadikan itu sebagai alasan untuk mencintai diri sendiri.

Dengan adanya kecintaan tersebut, setiap langkah yang dilakukan akan terasa lebih mudah. Memahami passion bisa menjadi kunci untuk terus meningkatkan kecintaan pada diri.

Selalu ingat bahwa hal ini sangat normal dialami individu. Oleh sebab itu, nikmati fase quarter life crisis dan jadikan ini sebagai bahan pembelajaran.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow